Rabu, 28 Desember 2016

Instalasi Phalcon Framework dan Phalcon Devtools di Raspberry

A. Keperluan Perangkat:

  • Raspberry Pi 2 atau Pi3

  • OS Raspbian Jessie Lite

  • Jaringan Internet lewat LAN atau WIFI


B. Persiapan Awal  

  1. Menggunakan Windows
  • Download File Image Raspbian Jessie Lite 
  • Ektrak Zip sehingga mendapatkan File Image‘xxxxxxxxx-raspbian-jessie-lite.img.’
  • Gunakan Aplikasi Win32DiskImager  untuk menduplikat File Image ke SDCard
 2. Raspberry
  • Booting Raspberry Pi dengan SDCard yang sudah berisi File Image
  • Login 
  • Ganti password
  • Buka raspi-config dan aktifkan SSH

  3. SSH
    $ sudo ln -s /etc/apache2/mods-available/rewrite.load /etc/apache2/mods-enabled/


  • Edit dan tambahkan ke file 000-default.conf baris berikut :
          <Directory "/var/www/html">
                   Options All
                   AllowOverride All
                   Allow from All
          </Directory>



C. Instalasi Phalcon

  1. Install Paket Pendukung 
$ sudo apt-get install php5-dev libpcre3-dev gcc make git php5-mysql
  2. Membuat Ekstensi
$ git clone git://github.com/phalcon/cphalcon.git
$ cd cphalcon/build
$ sudo ./install
  3. Pengaturan Modul

  • Buat sebuah file dengan nama ‘phalcon.ini’ di folder‘/etc/php5/mods-available/’ berisi : ‘extension=phalcon.so’ (tanpa tanda petik)
          ( contoh : $ sudo nano /etc/php5/mods-available/phalcon.ini )


  • Buat link untuk Apache
     $ sudo ln -s /etc/php5/mods-available/phalcon.ini /etc/php5/apache2/conf.d/30-phalcon.ini

  • Buat link untuk CLI
    $ sudo ln -s /etc/php5/mods-available/phalcon.ini /etc/php5/cli/conf.d/30-phalcon.ini


  • Restart Apache 
    $ sudo service apache2 restart

  • Cek PHPINFO

  

D. Install Phalcon Developer Tools

  • Install Git
   $ git clone git://github.com/phalcon/phalcon-devtools.git


   $ cd phalcon-devtools
   $ . ./phalcon.sh


  • Buat link ke phalcon.php
    $ sudo ln -s ~/phalcon-devtools/phalcon.php /usr/bin/phalcon


    $ chmod ugo+x /usr/bin/phalcon

  • Ketik printah 'phalcon info'


E. Tes DevTools

  • Masuk ke Folder /var/www/html
         $ cd /var/www/html
  • Buat project baru (misalnya nicom)
         $ sudo phalcon create-project nicom



  • Buka browser dan arahkan ke ~home/nicom


Selamat !!! Anda telah berhasil menginstal Phalcon Framework dan Devtools di Raspberry

Rabu, 30 November 2016

Tutorial DIY - Radar ADSB - Piaware Versi 3.10

Flightaware telah merilis paket baru software ADSB untuk Raspberry  yaitu Piaware versi 3.1.0.

Untuk perangkat  kerasnya sama dengan perangkat terdahulu kecuali untuk Raspberry menggunakan Raspberry 3. Adapun cara instalasi :

1. Unduh file   PiAware on Raspbian Linux 3.1.0 ZIP (632MB) dan simpan di PC.


2. Ekstrak file ZIP tersebut di-atas hingga mendapatkan file 'piaware-sd-card-3.1.0.img'


4. Masukkan kartu memori uSD ke card-reader.



5. Jalankan Win32DiskImager utility. Jalankan file ini dalam mode Administrator (klik kanan pada file, dan pilih "Run as administrator")

6. Pilih ImageFile 'piaware-sd-card-3.1.0.img' yang telah diunduh.

7. Pilih drive SD card pada kotak device. Berhati-hatilah memilih drive yang benar !!!

8. Klik 'Write' dan tunggu sampai selesai. Mungkin memakan waktu beberapa menit.

9. Jika telah selesai, 'eject' dan keluarkan kartu memori uSD.

10. Masukkan kartu memori ke Raspberry Pi

11. Pasang kabel antena di DVT-T dan colokkan ke port USB Raspberry

12. Pasang kabel Power dan kabel LAN ke Raspberry Pi

13. Hubungkan power supply ke stop kontak PLN. Perhatikan pada Raspberry Pi, led merah akan menyala dan led hijau akan berkedip. Tunggu beberapa saat sampai led warna kuning dan hijau di port Ethernet menyala/berkedip.

14. Sampai disini kita sudah bisa menampilkan hasil radar pada layar browser dengan mengetik alamat ip raspberyy pi. Contoh bila raspberyy mendapat IP 192.168.1.2 maka lewat browser komputer di jaringan tinggal diketik 192.168.1.2.


15. Klik Go to Map untuk menampilkan tampilan radar


16. Untuk membagi data tersebut ke server Flightaware bisa membaca artikel terdahulu.

Rabu, 24 Februari 2016

Tutorial DIY - Radar ADSB

Update : 25 Peb 2016 -  09:43

Radar ADSB seperti yang sudah dibahas pada artikel terdahulu adalah perangkat yang bisa mendeteksi atau menerima sinyal ADSB yang dipancarkan pesawat udara.

Untuk membuat radar adsb tidak terlalu sulit tentunya bagi yang suka utak-atik rangkaian elektronik komputer. Hanya memerlukan 3 perangkat utama yaitu; 
  1. USB-DVBT dongle (RTL-SDR), 
  2. Antena 
  3. Komputer.

RTL-SDR adalah dongle USB berbasis chipset RTL2832U yang digunakan untuk menerima/mengolah sinyal radio. Umumnya perangkat USB ini dijual untuk menerima siaran TV Digital lewat komputer. Tentunya selain untuk menerima siaran TV Digital, perangkat ini merupakan scanner radio yang paling murah.


Sebagai langkah awal maka untuk antena memakai antena standar bawaan dari dongle. Walau tidak terlalu sensitif  tapi paling tidak bisa digunakan.

Komputer yang digunakan untuk proyek ADSB ini, bisa menggunakan PC, Laptop atau Komputer Mini Rasberry Pi. Pada tutorial ini hanya akan membahas penggunaan Raspberry Pi saja, karena lebih mudah dan murah.

Contoh software yang digunakan yaitu menggunakan image dari flightaware dan repo dari flightradar24.

Bahan :
  1. Raspberry Pi 2 Computer - Rp.500 ribu-an
  2. ADS-B (DVB-T) Receiver USB Dongle with Indoor Antenna - Rp.200 ribu-an
  3. Power Supply untuk Raspberry Pi 5V 2A 2000mA Micro USB  - Rp.50 ribu-an
  4. MicroSD 8GB Memory Card Class 10 - Rp.75 ribu-an
  5. Acrylic Case / Casing -  Rp.30 ribu-an
  6. Kabel Ethernet 2meter Rp.20 ribu-an
Instalasi :

A. Flightaware
  1. Unduh file  PiAware on Raspbian Linux 2.1-5 ZIP via Windows di PC.
  2. Ekstrak file ZIP tersebut di-atas hingga mendapatkan file 'piaware-sd-card-xxx.img'
  3. Unduh Win32DiskImager utility ZIP.
  4. Masukkan kartu memori uSD ke card-reader.
  5. Jalankan Win32DiskImager utility. Jalankan file ini dalam mode Administrator (klik kanan pada file, dan pilih "Run as administrator")
  6. Pilih ImageFile piaware-sd-card-xxxx.img yang telah diunduh.
  7. Pilih drive SD card pada kotak device. Berhati-hatilah memilih drive yang benar !!!
  8. Klik 'Write' dan tunggu sampai selesai. Mungkin memakan waktu beberapa menit.
  9. Jika telah selesai, 'eject' dan keluarkan kartu memori uSD.
  10. Masukkan kartu memori ke Raspberry Pi
  11. Pasang kabel antena ke DVT-T,
  12. Kemudian pasang kabel power, USB DVT-T dan kabel LAN ke Raspberry Pi
  13. Hubungkan power supply ke stop kontak PLN. Perhatikan pada Raspberry Pi, led merah akan menyala dan led hijau akan berkedip. Tunggu beberapa saat sampai led warna kuning dan hijau di ethernet menyala/berkedip.
  14. Sampai disini kita sudah bisa menampilkan hasil radar pada layar browser dengan mengetik alamat ip raspberyy pi dan port data yaitu port 8080. Contoh bila raspberyy mendapat IP 192.168.1.3 maka lewat browser komputer di jaringan tinggal diketik 192.168.1.3:8080.
    Apabila kita ingin membagi data kita ke server flightaware maka lanjutkan langkah berikutnya.
  15. Daftar keanggotaan dulu via browser di Flightaware 
  16. Isi data yang diperlukan
  17. Jika sukses, catat  dengan baik username dan password. Ikuti langkah berikut untuk mendaftarkan raspberry pi 
  18. Hubungkan monitor HDMI dan keyboard ke raspberyy pi
  19. Pada tampilan login prompt isikan data
    Username: pi
    Password: flightaware
  20. Bila sudah bisa login ketik (ganti username dengan username yang sdh terdaftar):
    sudo piaware-config -user <username> -password
  21. Kalau diminta password, isikan password sesuai password pendaftaran.
  22. Setelah proses selesai, restart ulang perangkat dengan mengetik :
    sudo /etc/init.d/piaware restart
  23. Lihat statistik perangkat di https://flightaware.com/adsb/stats/user/<username>
B. Flightradar24

.... bersambung .....

    Kamis, 21 Januari 2016

    Sejarah ADS-B

    Diterjemahkan secara bebas dari : http://adsbforgeneralaviation.com

    Air Traffic Control (ATC) atau pengendali lalu lintas udara dan  radar pertama kali digunakan bersama-sama pada tahun 1943 ketika ATC di Angkatan Udara (mungkin maksudnya AU Amerika) mulai menggunakan Ground Controlled Approach (GCA), yaitu peralatan untuk membantu pilot militer mendarat dengan selamat dalam keadaan visibilitas yang rendah. Penerbangan sipil pertama kali menggunakan peralatan GCA di La Guardia Airport pada tahun 1945 di mana sangat berperan penting dalam peningkatan tiga kali rata-rata pemanduan 15 pesawat per jam. GCA diterima secara luas pertengahan tahun 1950-an.

    Guna meningkatkan lalu lintas udara, tidak hanya dengan cakupan area dan memindai tingkat putaran radar, tetapi jangkauan radar juga telah ditingkatkan di tahun 1960-an. Peningkatan tersebut meliputi penambahan pelacak pesawat otomatis dan pelacak cuaca.
    Inovasi lain muncul selama Perang Dunia II adalah sistem  Identification Friend or Foe (IFF), identifikasi kawan atau lawan. IFF tergantung pada receiver unit / transmitter (transponder) di pesawat yang menanggapi 'interogasi' kode radar . Pada awal 1960-an, FAA menerbitkan standar untuk transponder dan ATC interogator untuk penerbangan sipil dan di AS transponder menjadi peralatan wajib di pesawat yang beroperasi.

    Pada 1970-an, Air Traffic Control Radar Beacon System (ATCRBS), juga dikenal sebagai Secondary Surveillance Radar (SSR), ditingkatkan untuk meningkatkan kinerja pengawasan di wilayah udara padat dan transmisi darat dan pesawat. Dengan masing-masing pesawat yang dilengkapi dengan transponder, interogasi dari radar darat menerima data yang unik sehingga pengendali bisa mengidentifikasi kerlip di layar mereka.

    Pada 1980-an, Airborne Collision Avoidance System (ACAS), sistem untuk menghindari tabrakan udara  dikembangkan. Menggunakan pengawasan udara-ke-udara dan diterapkan di semua pesawat komersial yang beroperasi di Amerika Serikat dan Eropa.

    Pada 1990-an, radar surveillance of runways  atau radar pengawas landasan pacu dan taxiway ditambahkan. Sistem ini digabung pada transponder, teknik yang disebut 'multilateration', membuat akurasi pengawasan di permukaan cukup baik untuk memberi informasi ke ‘safety warning devices’ atau perangkat peringatan keselamatan.

    Evolusi teknologi surveilans berikutnya adalah Traffic Collision Avoidance System (TCAS) atau sistem untuk menghindari tabrakan lalu-lintas. Dengan TCAS, satu pesawat menginterogasi transponder satu sama lain, sehingga dapat mendeteksi potensial konflik wilayah udara. Informasi yang dihasilkan dapat ditampilkan secara grafis menggambarkan berbagai jarak pesawat dan posisi ketinggian. TCAS tidak memerlukan infrastruktur darat tetapi hanya sistem TCAS pada pesawat dan transponder berjalan pada Mode C

    Yang terbaru, Automatic Dependent Surveillance - Broadcast (ADS-B) dikembangkan untuk mengirimkan posisi pesawat dan kecepatan dalam 3 dimensi ke  pesawat lainnya melalui data link udara-ke-udara dan ke stasiun darat melalui link udara-ke-darat (ADS-B Out). Pesawat lain dapat menggunakan/membandingkan informasi kondisi vektor bersama dengan kondisi vektor mereka sendiri untuk menghitung dan menampilkan berbagai posisi relatif (ADS-B In). Selain itu, data yang dikumpulkan dari pesawat ADS-B Out dikirim ke ATC. Seperti TCAS, ADS-B membutuhkan pesawat dengan perangkat dilengkapi ADS-B untuk menerima manfaat penuh dari sistem. Jika satu pesawat tidak memiliki transponder mode C, pesawat tidak terlihat oleh pesawat TCAS. Begitu juga dengan ADS-B, jika pesawat tidak menyiarkan keadaan vektor, pesawat dengan ADS-B tidak akan 'melihat' mereka. Oleh karena itu, instalasi SSR harus terus dioperasikan di wilayah udara sampai semua pesawat memiliki kemampuan ADS-B Out. Oleh karena itu pembenaran mandat hukum guna 'memotivasi' industri penerbangan dan konsumen untuk melengkapinya. Tentunya pemasangan ADS-B ini menambah biaya bagi pemilik pesawat, tetapi menurut peraturan Federal Aviation Administration (FAA) penggunaan ADS-B ini paling lambat harus dipasang sebelum 1 Januari 2020.

    ADS-B sendiri memiliki sedikit sejarah. Pada pertengahan 1990-an, FAA menerbitkan ' Surveillance
    Vision Plan – Rev 2'. SVP menggambarkan sebuah "transisi dari sistem surveillance radar darat ke sistem yang menghubungkan satelit dengan sistem surveilance darat" dalam 5 tahun sampai 2015.
    Dari perspektif sejarah, SVP adalah bacaan yang menarik. Namun, sistem telah berevolusi dari pelajaran dengan prototipe dimulai pada awal 2000-an. Salah satu program yang paling terkenal adalah Proyek Capstone di Alaska. Dari Capstone menghasilkan Universal Access Transceiver (UAT), sebuah perangkat yang dapat berkomunikasi dengan ground dan dengan pesawat terdekat untuk bertukar data posisi ADS-B. Keindahan UAT adalah bahwa ia menggunakan komponen yang banyak tersedia agar harganya rendah dan dapat dimasukkan ke dalam radio di pesawat yang lebih kecil dan terbang rendah.

    Berikutnya adalah publikasi FAA, Notice of Proposed Rulemaking (NPRM) atau usulan pembuatan peraturan untuk ADS-B Out pada tanggal 5 Oktober 2007. Bersamaan dengan itu, FAA disewa ADS-B Aviation Rulemaking Committee (ARC) atau commite pembuatan peraturan (ARC) untuk menyediakan komunitas penerbangan dengan forum 'diskusi dan review' dari NPRM.
    Pada tanggal 26 September 2008, ARC diterbitkan itu menghasilkan “Recommendations on Federal Aviation Administration Notice No. 7–15, Automatic Dependent Surveillance—Broadcast (ADS–B) Out Performance Requirements to Support Air Traffic Control (ATC) Service; Notice of Proposed Rulemaking”.

    Setelah pertimbangan FAA maka, “Automatic Dependent Surveillance – Broadcast (ADS–B) Out Performance Requirements To Support Air Traffic Control (ATC) Service; Final Rule” diterbitkan 28 Mei 2010, dimana FAA menambahkan ke peraturan yang ada "kebutuhan perlengkapan dan standar kinerja untuk ADS-B Out avionik pada pesawat yang beroperasi di wilayah udara Kelas A, B, dan C, serta kelas-kelas tertentu ditentukan lain wilayah udara di AS ".

    Pada tanggal 30 September 2011, ADS-B di ARC memberikan rekomendasi yang mendefinisikan secara jelas bagaimana komunitas dapat memproses ADS-B sambil memastikan kompatibilitas dengan ADS-B Out avionik standar yang ditetapkan dalam §§ 91,225 dan 91,227 Judul 14, dari kode peraturan Federal. Ini sebagai tanggapan permintaan FAA untuk ARC  untuk menyediakan forum bagi komunitas penerbangan AS untuk menentukan strategi penggabungan teknologi ADS-B ke dalam NAS.

    Pada 2015, untuk pesawat dengan model baru, mesti memiliki sistem ADS-B. Kemudian untuk komunitas pemantauan sudah banyak komunitas yang merekrut relawan-relawan untuk mengumpulkan data-data penerbangan di seluruh dunia dengan menggunakan ADS-B receiver berbiaya rendah.

    Sabtu, 09 Januari 2016

    Pengantar - ADSB


    Catatan ini dibuat dalam beberapa bagian dan ini adalah bagian pengantar.

    Dalam dunia penerbangan modern, ada dikenal sebuah istilah dalam penentuan posisi pesawat terbang. Istilahnya tersebut disingkat ADS-B atau bisa langsung ditulis ADSB. ADS-B atau ADSB merupakan singkatan dari ‘Automatic Dependent Surveillance – Broadcast’.

    Menurut Wikipedia maksudnya adalah suatu teknik pengawasan kooperatif yang digunakan dalam pengelolaan ruang lalu lintas udara dan aplikasi lain yang terkait.  Entah siapa yang menerjemahkan istilah tersebut ke bahasa Indonesia, yang jelas penerjemahannya membuat bingung penonton.

    Sebenarnya maksudnya adalah ‘sebuah sistem penentuan posisi otomatis (berdasarkan GPS) - yang dipancarkan (broadcast)'. Jadi kalau diterjemahkan secara umum yaitu sebuah alat yang secara terus menerus memancarkan data posisi, kecepatan, ketinggian, jenis pesawat dan data lainnya sehingga bisa ditangkap sinyalnya oleh penerima, baik penerima di stasiun bumi ataupun penerima di pesawat lain.

    Menurut informasinya tujuan utama penggunaan ADSB adalah untuk mencegah tabrakan pesawat, karena dengan adanya ADSB, semua pesawat akan mengetahui posisi semua pesawat di sekitarnya sehingga mencegah terjadinya tabrakan dengan pesawat yang berdekatan. Memang ada beberapa kasus tabrakan karena pilot yang tidak mengindahkan sinyal ADSB karena dianggap oleh pilot cuma pemberitahuan palsu (fake alarm). Sebenarnya sistem ini hanya memberikan panduan pesawat dan keputusan akhir tetap di ‘tangan pilot’.

    Selain dapat diterima oleh pesawat lain, data ADSB yang dipancarkan pesawat bisa dimonitor oleh penerima di stasiun bumi semisal radar bandara sehingga memudahkan dalam pengelolaan lalu lintas pesawat di bandara.

    Bandingkan dengan sistem radar konvensional yang memancarkan sinyal ke segala arah dan kemudian menganalisa hasil pantulan sinyal dibagian penerima (efek doppler). Karena menggunakan sistem pantul maka jarak pendeteksian objek terbatas, dan itupun hanya mendeteksi jarak pesawat dan ketinggian pesawat. Pada sistem ADSB,  data posisi pesawat, ketinggian, jenis pesawat dan data lainnya dipancarkan oleh pesawat terbang ke segala arah dan dapat diterima oleh perangkat penerima ADSB sejauh 500 km.

    Selain itu ditinjau dari harga, untuk radar konvesional dibangun dengan harga puluhan milyar rupiah. Sedangkan untuk penerima ADSB biasa dipasaran dijual seharga 5 s/d 10 juta rupiah. Bagi yang suka eksperimen bisa merakit sendiri dengan biaya tidak lebih dari 1 juta rupiah. Bagi yang ingin gratis, bisa melihat di situs komunitas penerima data penerbangan semisal flightradar24.com, flightaware.com atau situs navigasi pesawat lainnya.

    Data penerbangan dari situs navigasi pesawat tersebut di atas berasal dari volunteer atau relawan yang mau membagi data ADSB yang mereka terima. Bagi kita yang mempunyai penerima ADSB maka kita hanya bisa menerima data pesawat maksimal radius 500km (tergantung kualitas ADSB). Agar bisa melihat radar diluar radius tersebut maka kita harus bergabung dengan komunitas yang mengumpulkan data penerbangan dari relawan seluruh dunia semisal flighradar24.com atau flightaware.com. Apabila kita mempunyai ADSB dan bergabung dengan komunitas tersebut maka kita akan diberi akun ‘Premium’, maksudnya apabila membuka situs tersebut dan login dengan akun premium maka kita akan disajikan data realtime penerbangan seluruh dunia yang tercakup dan tidak ada tampilan iklan.

    Relawan Indonesia di Komunitas Flightaware
    Di Indonesia sendiri relawan kebanyakan berada di pulau Jawa, beberapa di Kalimantan dan Sumatera. Kemudian latar belakang relawan yang ada kebanyakan berasal dari komunitas radio. Kenapa relawan banyak berasal dari dunia komunikasi tersebut, kemungkinan karena harus adanya latar belakang ilmu radio yang baik untuk pembuatan antena misalnya.

    Kemudian ada pertanyaan, jika ditinjau dari segi legalitas hukum. Apakah menerima sinyal ADSB itu legal/boleh  atau melanggar hukum?

    Jawabannya sederhana saja tidak perlu melihat undang-undangnya segala, secara logika saja, seandainya dilarang maka setiap pagi sekitar jam 6, warga Banjarmasin tidak akan bisa mendengar pengajian Guru Bakhiet di FM 99,2 MHz dan warga Banjarmasin tidak akan bisa mendengar pengajian Guru Juhdi di AM 783 kHz tiap malam Jum’at. Jadi kalau memang tidak boleh maka semua penerima radio dilarang diedarkan dan diperjual belikan. Lalu yang dilarang itu apa? Kalo menurut peraturan maka yang dilarang adalah memancarkan gelombang radio tanpa izin. Kesimpulannya jelas,  menerima gelombang radio tidak dilarang berarti menerima sinyal ADSB itu boleh !

    Yang mendasari tulisan ini sehingga terpaksa membuat coretan ini adalah hasil dari pengamatan sebuah pesawat Sr******* Air yang dengan gagah beraninya menerbangkan pesawat dari bandara di Makasar ke bandara Syamsudin Noor dengan ADSB dalam keadaan mati, entah disengaja atau memang rusak padahal pesawatnya bukan pesawat jadul yang memang tidak punya sistem ADSB. Pesawat jenis Kal*** ke Batulicin saja aktif ADSB-nya. Kalau tidak berfungsi kok beraninya terbang. Penumpang tidah tahu, yang tahu kan pihak bandara dan maskapai serta Allah Yang Maha Kuasa. Pihak Dishub saja mungkin tidak tahu. Kebetulan setelah itu ada menyaksikan salah satu siaran TV yang pembahas tentang penerbangan dan dinyatakan bahwa Indonesia termasuk dalam katagori penerbangan paling tidak aman. Tidak salah memang kalau kenyataannya seperti itu.

    Tujuan akhir penulisan ini kiranya bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi ini dengan baik. Khusus penggemar Android sudah ada aplikasi yang bisa menerima sinyal ADSB secara langsung dengan tambahan dongle DVB-T, dan kita akan bisa mendeteksi apakah pesawat itu aktif pemancar ADSBnya atau tidak.

    Tulisan berikutnya mungkin akan membahas lebih lanjut teknologi ini beserta bagaimana cara merakit receiver dan memasang aplikasinya di smartphone ataupun pc serta cara bergabung di komunitas ADSB. Semoga ada waktu untuk menulis lagi.

    Semoga bermanfaat, selamat berakhir pekan.

    (update 11 Januari 2016)